Saturday, February 4, 2012

Definisi Book Tax Differences

Kajian Teoritis Atas Perbedaan Laba Menurut Akuntansi dan Laba Menurut Fiskal (Book-Tax Differences) sebagai Penentu Kualitas Laba dan Kegunaannya Bagi Investor
Oleh: Dianwicaksih Arieftiara
Praktik bisnis saat ini memisahkan antara pemilik perusahaan dan pengelola perusahaan. Pada teori akuntansi hal ini disebut agency theory. Wolk et al. (2004) beranggapan bahwa pemisahan kepentingan antara manajemen dan pemilik yang berada diluar perusahaan sering terjadi pada praktik bisnis modern. Pihak pemilik perusahaan (disebut principal) memberikan kewenangan pada manajer (agent) untuk mengambil berbagai keputusan yang sejalan tujuan principal yaitu memaksimalkan utilities atau kekayaan principal. Agency theory telah banyak dijadikan teori dasar maupun dijadikan obyek penelitian khususnya mengenai hubungan antara principal dan agent diberbagai penelitian akuntansi. Dari berbagai penelitian yang ada mengenai agency theory, Eisenhardt (1989) melakukan penilaian dan review dengan membedakannya pada dua kelompok aliran yaitu penelitian positivis dan principal-agent.
Laporan keuangan dibuat untuk membantu investor dan kreditur untuk memahami historis keuangan perusahaan dan menggunakannya untuk memprediksi jumlah, waktu dan ketidakpastian arus kas masa depan (future cash flow) dan apresiasi harga (Mautz dan Angell, 2006). Laporan keuangan dijadikan dasar pengambilan keputusan ekonomis berbagai pihak yang berkepentingan atas perusahaan/suatu entitas (stakeholders). Pentingnya laporan keuangan tersebut, maka di dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan, PSAK menyebutkan bahwa agar informasi dalam laporan keuangan dapat berguna bagi pengguna, untuk itu, laporan keuangan harus memeuhi karakteristik kualitatif, yaitu dapat dipahami, relevan, keandalan, dan dapat diperbandingkan. Kaitan dengan agency theory, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, jelas bahwa di dalam agency theory terdapat pemisahan fungsi antara pengelola perusahaan dengan pemilik perusahaan (principal dan agent). Adanya pemisahan fungsi ini, maka laporan keuangan merupakan suatu alat bagi principal untuk menilai apakah manajer telah bertindak sesuai kepentingan principal, dan untuk menilai keberhasilan manajer (agent) dalam mengelola aset principal.
Oleh karena keberhasilan manajer diukur dari kinerja dalam laporan keuangan dan seringkali kompensasi manajer berdasar dari jumlah laba yang dilaporkan pada tahun berjalan maka manajer dalam menyusun laporan keuangan cenderung memilih dan menerapkan metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba akuntansi, manajer melakukan window dressing dengan melakukan manajemen laba. Manajer mengetahui semua informasi yang terkandung dalam laporan keuangan dibanding pemilik saham. Perbedaan inilah yang dinamakan asymmetry information. Hal ini seperti yang diteliti Palliam dan Shalhoub (2003) bahwa agent cenderung melakukan praktik akuntansi agresif yaitu memilih metode akuntansi yaitu memilih metode agresif untuk pengakuan penjualan dan sedikit mengakui beban akrual untuk memenuhi harapan/ekspektasi pemegang saham dan analis keuangan yang cenderung naik tiap periode. Hasilnya, pasar atau analis keuangan hanya menangkap informasi dari laporan keuangan bahwa ekspektasi atas laba perusahaan tercapai dan terus menaikkan tingkat ekspektasi laba di periode berikutnya tanpa mengetahui kondisi sebenarnya bahwa praktik akuntansi yang agresif tersebut dapat dikatakan mengarah pada praktik akuntansi yang dipertanyakan etikanya karena berbahaya bagi kinerja keuangan perusahaan jangka panjang.
Laporan keuangan yang disiapkan oleh agent memberikan berbagai informasi yang berguna bagi principal, yaitu pemegang saham dan bagi investor. Informasi akuntansi akan tercermin pada harga saham atau return saham ketika informasi tersebut berguna bagi investor (Mohammady, 2010). Pada beberapa literatur mengenai agency theory, umumnya mengkaitkan antara asymmetry information dengan adverse selection, yaitu kemungkinan terjadi kesalahan pada pengambilan keputusan. Pemegang saham atau investor mendasarkan keputusannya pada informasi laba. Beberapa penelitian mengenai kualitas laba telah dilakukan dengan mengkaitkan laba dengan berbagai hal. Penelitian pertama yang dilakukan untuk mengestimasi kegunaan laba akuntansi bagi investor telah ada sejak 1968, yaitu Ball & Brown (1968) dan Beaver (1968) dalam (Mohammady, 2010) melakukan penelitian mengenai hubungan antara return dan earnings dapat dilihat sebagai benchmark kegunaan informasi laba. Ball dan Brown (1968) telah meneliti kualitas laba dalam memprediksi harga saham. Higgins (2009) juga telah meneliti laba kuartalan dalam memprediksi harga saham. Dennis (2000) meneliti mengenai reaksi pasar terhadap pengumuman laba. Dastgir dan Talaneh (2008) telah meneliti hubungan antara laba dengan nilai saham dengan mengkontrol variabel nilai buku aset. Hanlon et al. (2005 ) telah meneliti kualitas informasi laba dikaitkan dengan persistensi laba, akrual, dan arus kas. Weber (2009) meneliti kualitas laba dikaitkan dengan future earnings. Tang (2011) juga memprediksi adanya earnings manajemen pada perusahaan di China. Penelitian tersebut telah menguji dan menganalisis kualitas laba dengan mengkaitkan pada book tax differences, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa book-tax differences dapat menjelaskan kualitas laba.
Perbedaan antara laba akuntansi dengan laba fiskal (book-tax differences) terjadi karena adanya perbedaan perlakuan dalam standar akuntansi dan aturan perpajakan. Pengakuan pendapatan dan biaya dalam akuntansi memperbolehkan metode akrual. Sedangkan menurut aturan perpajakan pendapatan dikategorikan menjadi: (1) pendapatan sebagai penambah penghasilan bruto dan (2) pendapatan yang telah dipotong PPh final (tidak menambah penghasilan bruto). Hanya pendapatan jenis pertama saja yang dapat dimasukkan kedalam laporan laba rugi fiskal namun apabila pendapatan tersebut telah diterima. Demikian pula biaya, menurut perpajakan, biaya dikategorikan sebagai biaya pengurang penghasilan (deductible expense) dan biaya non pengurang penghasilan (non deductible expense). Hanya biaya yang deductible saja yang boleh dimasukkan kedalam laporan laba rugi fiskal, namun dengan syarat biaya tersebut sudah dibayarkan.
Beberapa penelitian mengenai kualitas laba dari berbagai literatur, menggunakan selisih antara laba akuntansi dan laba fiskal (book-tax differences) dalam menjelaskan kualitas laba yang dilaporkan perusahaan (Patrick, 2001; Desai, 2002; Manzon dan Plesko, 2002; Mills et al., 2002 dalam Lev dan Nissim , 2004). Disisi lain dari beberapa literatur, Schipper dan Vincent (2003) dalam Mohammady (2010) memaparkan kategori konstruk kualitas laba yang diukur dari laba time-series (meliputi persistensi, konsep kualitatif tertentu pada kerangka konseptual FASB, dan perataan laba/income smoothing); hubungan diantara kas, akrual, dan pendapatan (income); dan keputusan penerapan. Sedangkan book tax differences dapat menjelaskan dengan baik persistensi, arus kas dan akrual pada perusahaan (Hanlon 2005 dan Wijayanti 2006).
....bersambung
*Telah disajikan penulis sebagai tugas pada perkuliahan matrikulasi program doktoral.

1 comment: